Selasa, 03 November 2009

Life As A House*



Akhirnya terprovokasi untuk membuat blog ... lagi. Yup, saya menggunakan kata "lagi". Sebab, membuat blog seolah menjadi ritual setahun sekali buat saya sejak tahun 2003 lalu. Mulai dari blogspot (bahkan sampai dua kali) terus friendster, terus multiply, facebook, wordpress ... dan kini blogspot lagi. Yang nyata, apapun "tuan rumah"-nya, ini menunjukkan bahwa konsisten menulis itu sulit. Atau mungkin lebih personal dari itu ... menulis tentang diri kita itu memang sulit.

Makanya sekarang saya memberanikan diri untuk menulis lagi, tentang hidup saya, pikiran saya, dan emosi saya. Makanya pula saya kembali menggunakan "tuan rumah" yang sama, tempat saya memulai nge-blog bertahun yang lalu.

Selamat datang di Rumah Pohon Teras Belakang saya!

Nama blog ini adalah bagian dari kisah personal saya. Sekitar 18 tahun yang lalu Bapak membuat kejutan. Sebuah rumah-rumahan mungil di bawah pohon jambu, di dekat teras belakang rumah. Sebenarnya sih jauh dari tampilan sebuah rumah, karena bentuknya seperti panggung kecil saja. Bertinggi 3 meter dari tanah, dengan luas 2 x 2 meter, dengan pagar pengaman setinggi setengah meter di setiap sisinya. Tangga kayu kokoh dibangun untuk akses naik turun kami berempat: kakak, saya dan kedua adik saya.

Kegirangan, kami selanjutnya dengan kreatif kami menjadikan kain spanduk sebagai atap, membawa beberapa mainan kami ke sana. Bahkan kedua adik perempuan saya sering bermain tamu-tamuan bersama teman-teman yang mereka ajak. Paling seru adalah saat panen jambu. Kami seolah menjadi saudagar jambu. Hanya dengan mendongak, menjulurkan tangan dari atas rumah pohon, kami bisa memetik buah-buah tersebut dengan bebas. Tidak ada teriakan Ibu, "Awas jatuh," atau "Hati-hati, Zak!" dari bawah yang biasanya berulang-ulang beliau sampaikan ketika dulu kami memanjat pohon jambu itu dengan liar. Rumah pohon itu pun sekaligus kami jadikan sebagai lokasi ngerujak. Seringkali pula kami mengundang sepupu-sepupu untuk datang. Bermain bersama, dan ditutup dengan ... ngerujak. Itu rumah kami berempat.

Saya sendiri, seringkali menjadikan rumah pohon itu sebagai tempat belajar. Bukan sok rajin, tapi berbagi kamar dengan kakak membuat saya sering terganggu. Lebih tepatnya, membuat saya tak punya privasi. Ha ha, saya mungkin berlebihan menggunakan kata "privasi" ... rasanya terlalu dewasa untuk seorang saya yang masih berumur 9 tahun. Tapi yang jelas saya ingat, saya pernah sangat kesal pada kakak saya, hingga akhirnya saya ngambek dan ngumpet di rumah pohon itu. Saya sampai ketiduran, hingga akhirnya dibangunkan Ibu untuk turun pindah ke kamar ketika sudah hampir tengah malam. Emosi yang hadir saat berantem dengan kakak atau adik, atau terkadang dimarahin Bapak/Ibu sering saya buang di rumah pohon itu. Tak marah-marah, tak banting-banting barang, kadang dengan berdiam diri atau melakukan hal-hal yang saya suka di sana sudah cukup mengalihkan perhatian. Membaca, mendengarkan radio, memetik jambu, atau sekedar melihat hijaunya sawah yang terhampar di balik pagar rumah.

Terinspirasi itu, saya pun ingin menjadikan rumah pohon yang ini sebagai tempat saya untuk bisa bebas, membuka privasi. Tentang diri saya dan tentang hidup saya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar