Minggu, 03 April 2011

The Karaoke King*




No no no ... I'm way too far from that title.
But, to be honest, I'm proudly present myself as a Karaoke Fling.
Because I think me and karaoke have an intimate relationship. Ha ha.

Hampir satu setengah tahun lalu saya menulis tentang kesukaan saya menyanyi (selengkapnya di sini), dan ternyata saya semakin tak bisa lepas dari kegemaran ini. Yah, sedikit lebih pe-de untuk melakukannya, bahkan kalau mengisi kolom "hobi" atau "kegiatan mengisi waktu luang" pada formulir melamar kerja atau blangko apapun, saya berani untuk menuliskan "menyanyi" di dalamnya.

And I take the bigger steps about it.
Yup, saya mulai berani untuk menyanyi di depan umum sekarang. Bukan hanya di rumah, bukan hanya di kamar mandi, bukan di bilik karaoke!!!

Bukan, bukan terus ikut ajang kompetisi dsb sih, atau malah berniat menjadi penyanyi profesional. Hanya menguji kemampuan diri. Itu niatnya. Dan, bagi saya pribadi, berani melakukan itu merangsang keberanian saya di bidang lain. Termasuk pekerjaan. Membuat saya lebih berani mendorong diri untuk melampaui "batasan" yang selama ini saya kira menjadi tepian kemampuan saya.

Saya memulainya dengan menyanyi di ajang pernikahan teman saya. Pertama kali, ketika ... tamu sudah mulai sepi. Masih takut ditimpuk fla puding. He he. Masa berlalu. Akhirnya mulai ga peduli dengan pendapat orang. Kalau pengen nyanyi di kawinan, maju terus pantang mundur. Meski banyak tamu.

Kemudian, diberi kesempatan oleh teman yang mempunyai bisnis kirim-ucapan-lagu-secara-langsung. Saya menyanyi lagu Ne-Yo "So Sick" dengan iringan gitar saja di depan klien pemesan jasa. Seneng banget ketika melihat yang dikirimi lagu itu menangis haru. Yah, saya tahu dia menangis bukan karena suara saya, hi hi. Tetapi itu cukup menguatkan semangat melagu saya.

Lalu, seorang teman lain memberi kesempatan juga. Saya menyanyi di ... pusat perbelanjaan. Dan beberapa kali. What a prestation (:p). Terus ... dibayar pula. Ah, senangnya. Senang juga mendapati pengunjung mal menoleh ... atau bahkan cukup melirik saja ketika saya menyanyi. Pernah juga mendapati pengunjung yang mengarahkan ponselnya pada saya. Dikira artis baru kali, (atau malah mengira, anggota baru Teamlo) whuahaha. Senang!

Saya ingat sekali betapa buruknya senandung yang keluar dari mulut saya. Ada lho kaset rekaman yang membuktikannya. Ha ha. Juga banyak teman yang menjadi saksi betapa "mengganggu"-nya suara saya di kuping mereka. Dan sekarang, saya gembira, setidaknya mereka tidak menyuruh diam ketika saya bernyanyi, he he.

Headache*



Saya menulis ini dengan tancapan Bokoma di kepala saya. Bokoma? Yeah, teman-teman saya, bahkan saya sendiri menyebutnya sebagai pengocok telur, karena wujudnya yang mirip sedemikian rupa. Si Bokoma ini memang ditujukan untuk memijat kepala, untuk me-rileks-kan saraf-saraf di kepala. Bagi saya pribadi, alat ini merupakan penyelamat ketika migrain saya menyerang. Penyakit yang suka muncul dan lenyap dengan tiba-tiba.


Seyakin saya, migrain ini sudah saya alami sejak SMA. Dengan frekuensi yang semakin lama semakin sering. Dengan durasi tak terkira. Bisa beberapa jam, bisa semalam, atau paling lama ... 2 minggu. Dulu bisa saja si migrain absen selama 6 bulan, namun mendadak nongol seminggu sekali. Penyebabnya pun tak bisa saya prediksi, bisa karena bangun tidur kaget, kecapekan, kurang olahraga, kurang minum air putih, atau bisa tanpa sebab apapun. Dulu pernah ketika saya masih kuliah, si migrain nongol ketika saya pulang jalan kaki dari kosan temen. Hilangnya pun juga masih belum terpola. Bisa dengan makan bergizi, bisa dengan dipijat, bisa dengan mandi, mengguyur kepala dengan air dingin, bahkan ... bisa dengan nyanyi-nyanyi.

Banyak yang bilang saya stres. Masuk akal. Kadang memang muncul ketika load kerjaan banyak, atau dulu ketika jelang ujian akhir. Tapi seperti yang saya sebut tadi, bisa saja tanpa alasan apapun. Sering juga ketika saya pikir load pikiran saya banyak, si migrain tak hadir sama sekali (Alhamdulillah). Nggak minum obat? Sudah saudara-saudara. Dulu, minum panadol merah bisa sembuh. Tetapi lama-kelamaan saya minum 2 tablet sekaligus pun tak mempan. Dan akhirnya saya berhenti karena nggak mau meracuni tubuh saya dengan obat mubazir. Toh si migrain itu suka lenyap seenak jidatnya.

Nggak ke dokter? Yup. Meski saya akui terakhir kali saya ke dokter adalah pada tahun 2004 lalu. Mulai dokter umum, dokter mata, dokter gigi, bahkan ke dokter saraf. Katanya ... "Biasa kok untuk seumuran ini (dulu masih awal 20-an). Kecapekan dan pola hidup tidak sehat." Kira-kira demikian. Saya mikirnya, "Hmm ... bisa jadi, namanya juga anak kos." Tetapi ketika saya (merasa) sudah menerapkan hidup sehat, rasanya si migrain masih mampir saja. Obat dokter pun tak berkhasiat menghalaunya. Jadi ... tak ke dokter lagi. Sangat mungkin saya salah. Mestinya saya mendatangi dokter lain. Second opinion-lah setidaknya.

Nah, hari ini, Minggu, adalah hari ke-4 pusing saya kambuh. Sejak Rabu malam saya merasakannya (Jumat saya sampai tak masuk kantor). Tidak terus menerus memang, tetapi setiap hari ada momen yang rasanya cenut-cenutnya klimaks. Seperti hari ini. Bangun pagi saya merasa lebih baik, dengan perkiraan saya sudah sembuh sempurna. Ternyata ... salah. Tidur siang sejenak sekitar sejam, malah membuahkan nyut-nyutan dahsyat kala bangun. Si migrain masih bercokol. Akhirnya saya lawan dengan mandi "mewah air". Maksudnya, saya alirkan air ke kepala dari kran, terus rendam kepala di ember, keramas, pijat-pijat kepala, lalu mengguyur kepala dengan 2 ember air. Hasilnya ... membaik. Lalu, sengantuk-ngantuknya saya siang tadi, saya tidak berani memejamkan mata. Takut kumat lagi.



Mengantisipasi agar tak terserang lagi. Saya mencoba rileks. Banyak minum air putih, dan ... menancapkan Bokoma. So far ... it works. Dan saya harus berterima kasih pada siapaun pencipta alat ini.