"Ringgo kawin bulan May?"Fiuh! Iklan yang sempat tren beberapa waktu lalu itu pasti menyelamatkan banyak orang dari pertanyaan pamungkas, ”Kapan kawin?” Bagi kita, para lajang, usia pertengahan 20-an tentunya menjadi masa kritis untuk didera pertanyaan tadi.
Ok, saya pun berada di fase umur itu. Bahkan kalau merunut background, saya berasal dari kota kecil yang sangat Jawa, di mana di sana dengan usia yang saya sandang ini sudah pantas mendapat karunia dua anak –even kakak saya pun demikian. Wajar jika di mailist SMA saya, topik hangatnya selalu mengenai menikah atau berbalas email ucapan selamat ketika salah satu dari teman yang posting undangan resepsinya. Belum lagi jika ada acara bersama keluarga besar, pertanyaan tadi sering diiringi ajakan om ini tante itu untuk berkenalan dengan anak mereka (yippie!).
Dan, jawaban Ringgo dengan,
“Maybe yes, maybe no,” memberi alternatif yang lebih manis ditiru, tinimbang kita ketahuan sebagai pria yang masuk kategori:
pertama, belum punya pasangan, atau
kedua, memang nggak mau menikah –dengan berbagai alasan. Pun bagi yang sudah punya pasangan –dan sudah pacaran bertahun-tahun, apalagi sudah ngebet menikah, apa yang sebenernya mereka tunggu lagi? This morning, I asked my friends, my male friends
“Kenapa sih nggak kawin-kawin juga?” Dan, sangat umum jawabannya,
“Lagi ngumpulin biaya kawin,” yang membuat mereka saya masukkan kategori
ketiga: pria yang sudah punya pasangan tapi belum punya duit untuk biaya resepsinya –jawaban ini bernilai rasa lebih tinggi daripada dua yang lain.
Memang, bagi kaum pria, sudah fitrahnya jika uang menjadi prioritas.
Andrew Kimbrell, penulis “The Masculine Mystique” pernah mengemukakan hasil research-nya, “The Differences between Masculine and Feminine” dan menyebut salah satu karakter pria:
strong drive for power and money. Terkait itu, rasanya “ngumpulin biaya kawin” menjadi jawaban yang lebih bisa diterima.
Laki-laki beranggapan pernikahan sebagai sebuah lembaga yang bisa mempertaruhkan power-nya. Karenanya, secara natural mereka akan menggunakan segala cara untuk tetap bisa mempertahankan power, termasuk dengan money. Nah, jika wedding dianggap sebagai gerbang awal pernikahan, maka bagi kaum Adam itu menjadi sarana aktualisasi (baca: pertunjukan) power dan money, yang ditujukan selain pada pasangannya tetapi juga banyak orang. Semakin dimahfumi pula jika laki-laki ingin mempertunjukkannya dengan sempurna dan total, yang bahkan sering kita denger, dengan biaya yang membelalakkan mata.
Guys, coba dengarkan pasangan Anda baik-baik. Is that what they’re really looking for? Yeah, mereka memang mempunyai their wedding fairy tales: white dress, flowers everywhere, big cake, and much more. Namun sungguh mereka justru lebih melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mendalam. Seperti yang diutarakan teman perempuan saya, “Marriage is happiness, security, lots of love and understanding.” It sounds cliché but don’t be sarcastic, having a “happily ever after” is her marriage fairy-tale. Admit that women really want it in their real life.
Back to Kimbrell. He said, perempuan mempunyai karakter kebalikan dari pria:
power and money less important. Mereka nggak terobsesi kekuasaan dan uang kok. Nah, jawaban teman perempuan saya tadi pun sangat sesuai dengan karakteristik lain perempuan hasil temuan Kimbrell: that woman needs more intimacy –yang mana sebaliknya pria justru: needs less intimacy.
So, why bother with people’s opinion. Marriage is a phase where you will spend the rest of your life with someone who loves you, and I hope, who you really really love. Toh yang sebenarnya pasangan inginkan hanyalah Anda, cinta Anda. Well, jika kelak di suatu acara Anda keceplosan menjawab pertanyaan “Kapan kawin?” dengan, “May.” Lantang teruskan jawaban Anda dengan,”May is perfect!” dan saya yakin pasangan Anda akan memeluk Anda lebih erat.