Sabtu, 26 Desember 2009

Just Write*



Whuahahaha, setelah euphoria punya blog baru bulan lalu, bulan ini malah saya mandul. Makanya mumpung bulan Desember belum kelar, saya buru-buru nyari ide buat nulis, biar arsip bulanan saya nggak kosong.

Sebenarnya hasrat nulis sih kerap hadir. Tapi entah kenapa selalu tidak terselesaikan. Hanya menjadi 'draft' yang tersimpan di 'dashboard' atau bahkan nyembul di otak sejenak untuk kemudian tak berbekas karena saya tak mendokumentasikannya.

Pagi ini saya terinspirasi dari ... bengong. Hi hi, karena dah mati gaya nonton TV (2 hari libur panjang kemarin saya habiskan untuk menonton beberapa DVD), dan merasa kaya membuang waktu percuma. So, saya memaksa diri untuk membuat situasi yang bisa mendorong menulis.

Nah, berikut beberapa situasi yang selalu manjur menjadi faktor pendorong.
  1. Membaca majalah. Yup, I'm a magazine person. Mulai saya kecil sepertinya, ketika Ibu saya berlangganan majalah Bobo, Taman Melati, Donal Bebek sebagai bacaan anak-anaknya. Sayalah yang paling rajin menyimpannya. Bahkan Lebaran tahun ini ketika mudik, saya masih menemukan kumpulan majalah yang saya simpan. Hadiah-hadiah dari Bobo pun masih utuh. Tentu sekarang bukan majalah seperti itu yang menginspirasi saya. Yang lebih sesuai umur lah, he he. Khusus pagi ini, saya baru saja membaca Men's Health edisi November 2009. Tak ada artikel khusus. Hanya, membaca karya-karya orang membuat saya ingin berkompetisi membuat tulisan.
  2. Menonton film. Terutama film-film yang menampilkan tuturan 'pelaporan' kegiatan sehari-hari (bisa juga tokoh utama sebagai naratornya). Misalnya, "Sex and the City", "Grey's Anatomy" dan "Marley and Me" -yang terakhir saya tonton sih "The Soloist". Atau, yang juga menggunakan narator (meski bukan si karakter utama): seperti "(500) Days of Summer" atau "Watchmen". Film-film jenis ini seolah menyadarkan saya bahwa di sekitar saya banyak hal yang sebenarnya bisa menjadi bahan untuk ditulis.
  3. Membaca kolom. Jika saya tadi mengkhususkan diri sebagai penyuka media majalah, faktor pendorong yang ini menunjukkan kesukaan saya pada penulisnya. Lebih tepat lagi, pada gaya tutur penulisnya. Saya suka tulisan dengan gaya tutur narasi sehari-hari -seperti juga jenis film yang saya suka di atas. Membaca kolom seperti mengikuti kehidupan penulis secara bersambung. Dari tulisan satu ke tulisan berikutnya secara tak langsung menghadirkan karakter penulis pada kehidupan nyatanya. Termasuk pemikirannya terhadap hidup. Bijaknya, kita seperti berkaca pada tulisannya. That's why I love blog walking; ada beberapa blog orang yang rutin saya kunjungi. Pagi ini saya baru membaca kolom Candace Bushnell yang telah dibukukan: "Sex and the City" -Anda pasti tahu. Selain itu saya juga suka "Parodi"-nya Samuel Mulia di Kompas, tulisan-tulisan Mark Simpson, dan juga kolom "Bahasa" di Tempo.
Nah, setelah terdorong, ini tahap terpentingnya: MENULISKANNYA. Ha ha, tahap tersulit, karena kemalasan menjalinkan kata untuk mengungkapkan isi otak cenderung lebih sering menang. Hfff ... setidaknya untuk kasus pagi ini, ketiga faktor itu telah mendorong saya untuk membuat tulisan tentang "tiga faktor" itu.

Intinya jika sudah terkondisikan, tulis saja apapun yang ada di otak Anda.

Happy writing!

Senin, 23 November 2009

Ratatouille*



Saya sedang suka memasak. Memang masih mood-mood-an, karena terakhir saya masak sepertinya lebih dari sebulan yang lalu. Tepatnya ketika bulan puasa. Nah, beberapa hari terakhir ini saya terdorong untuk melakukannya lagi. Sebabnya? Karena abis menonton "Ala Chef"-nya Farah Quinn di TransTV akhir pekan lalu.

Nah, alasan lebih kuat lagi adalah karena hemat di kantong. Sejauh ini, 3 hari saya cuma menghabiskan Rp 10.000 saja, dan makan cukup layak. Setidaknya menurut kacamata saya: kebutuhan sayur dan protein terpenuhi dari bahan makanan yang saya beli dengan nilai uang tadi. Yup, wortel, kacang panjang, kol, tempe, tahu dan bumbu-bumbunya bisa saya dapatkan dengan murah. Untunglah saya bisa tahan untuk tidak makan nasi.

Balik lagi ke tentang memasak. Saya memang bukan ahli masak. Makanya hasil masakan saya masih belum pede untuk saya share pada orang lain. Saya mengklaimnya menggunakan kalimat, "Untuk konsumsi pribadi saja." Meski kadang teman kontrakan juga ikut mencicipi. Tapi dari reaksi mereka ketika makan, saya yakin itu bukan reaksi puas. Salah seorang teman saya kemarin mempunyai istilah: apapun masakan Zaki, rasanya gitu-gitu aja. Bagi saya sendiri tentu tak puas juga mendapati reaksi seperti itu. Saya jadi tertantang untuk bikin masakan dengan rasa yang lebih layak.

Nah, solusi yang paling mudah adalah mengimplementasikan peribahasa "malu bertanya sesat di jalan". Jadi saya banyak bertanya sebelum memasak. Bertanya pada orang yang lebih mahir, agar rasa masakan saya tak memalukan. Syukurlah kemajuan teknologi mempermudah saya untuk mengakses orang-orang yang lebih mahir itu. Kadang lewat sms ke ibu, atau YM-ing teman-teman. Bahkan tadi sore saya mendapat resep lengkap bikin capcay lewat Twitter. Yah, saya jelas masih butuh bantuan dalam memasak. Saya masih sangat butuh "Ratatouille".

Sabtu, 14 November 2009

Taylor*



Rasanya saya mulai kesulitan nih ketika membuat judul di blog ini. Sudah banyak yang nggak nyambung. Ha ha. Tapi bodo' ah, I'm trying to build a pattern here.

Baiklah. Judulnya "Taylor" karena saya memang bermaksud untuk membuat tulisan bertemakan itu. Tepatnya ... Taylor Swift.



Saya memang sedang tergila-gila dengan Country Music Princess ini. Sekitar 3 tahun yang lalu, adalah pertama kalinya saya menemukan nama Taylor Swift di tangga lagu US Billboard. Dari tampilan rambut curly berantakan, looked older, membuat saya malas untuk mencari tahu lebih tentang dia. Apalagi setelah tahu kalo genre yang diusungnya: country. Entah kenapa kesan awal saya tentang jenis musik ini adalah Tantowi Yahya memakai topi koboi dan menyanyikan "Bengawan Solo" -pengalaman yang sungguh traumatis, hingga saya enggan bersentuhan dengan musik itu-.



Namun, tahun lalu, ketika album kedua Taylor Swift "Fearless" bercokol di puncak. Saya jadi bertanya-tanya. Dan akhirnya fakta bahwa dia masih muda (18 tahun) dan bahwa dia memulai menulis lagu sejak umur 12 tahun (hanya dengan 3 chord gitar yang diajarkan oleh seorang tukang servis yang sedang bertugas ke rumahnya), serta bahwa dia menolak sebuah label besar karena dia harus menyanyikan lagu orang lain, membuat saya kagum.



Saya pun kemudian mencari lagu-lagunya. "Love Story" menjadi lagu dia pertama yang saya favoritkan. Dan saya makin bergairah pada penyanyi cantik ini setelah single "You Belong With Me" meledak. Saya kemudian mencari-cari lagu-lagunya yang lain, seperti "White Horses" (yang rilis perdana di salah satu episode Grey's Anatomy), atau lagu lama dia "Tim McGraw" yang mengantarnya untuk populer.

Minggu ini menjadi pekan pencapaian yang luar biasa buat Swift. Di Country Music Association Awards, ia menyabet gelar "Female Vocalist of the Year", "Album of the Year" for Fearless, "Music Video of the Year" for "Love Story" dan the youngest-ever of the CMA's top trophy: "Entertainer of the Year".

Di tangga lagu Billboard 100, sejarah pun ia torehkan dengan mencokolkan 8 single sekaligus, 5 diantaranya adalah debutan (dari re-released-nya Fearless: Deluxe Edition) menjadikan Swift sebagai wanita pertama yang mempunyai single terbanyak dalam chart, dan wanita pertama yang mempunyai debutan terbanyak dalam satu pekan.

Bravo. Mengingat umurnya, sepertinya saya akan mengidolakan Taylor Swift dalam waktu lama.

PS: Lagi suka "The Other Side of the Door" ... lucu, abege sekali!

Jumat, 13 November 2009

Every Girl Should Be Married*



"Ringgo kawin bulan May?"

Fiuh! Iklan yang sempat tren beberapa waktu lalu itu pasti menyelamatkan banyak orang dari pertanyaan pamungkas, ”Kapan kawin?” Bagi kita, para lajang, usia pertengahan 20-an tentunya menjadi masa kritis untuk didera pertanyaan tadi.

Ok, saya pun berada di fase umur itu. Bahkan kalau merunut background, saya berasal dari kota kecil yang sangat Jawa, di mana di sana dengan usia yang saya sandang ini sudah pantas mendapat karunia dua anak –even kakak saya pun demikian. Wajar jika di mailist SMA saya, topik hangatnya selalu mengenai menikah atau berbalas email ucapan selamat ketika salah satu dari teman yang posting undangan resepsinya. Belum lagi jika ada acara bersama keluarga besar, pertanyaan tadi sering diiringi ajakan om ini tante itu untuk berkenalan dengan anak mereka (yippie!).

Dan, jawaban Ringgo dengan, “Maybe yes, maybe no,” memberi alternatif yang lebih manis ditiru, tinimbang kita ketahuan sebagai pria yang masuk kategori: pertama, belum punya pasangan, atau kedua, memang nggak mau menikah –dengan berbagai alasan. Pun bagi yang sudah punya pasangan –dan sudah pacaran bertahun-tahun, apalagi sudah ngebet menikah, apa yang sebenernya mereka tunggu lagi? This morning, I asked my friends, my male friends “Kenapa sih nggak kawin-kawin juga?” Dan, sangat umum jawabannya, “Lagi ngumpulin biaya kawin,” yang membuat mereka saya masukkan kategori ketiga: pria yang sudah punya pasangan tapi belum punya duit untuk biaya resepsinya –jawaban ini bernilai rasa lebih tinggi daripada dua yang lain.

Memang, bagi kaum pria, sudah fitrahnya jika uang menjadi prioritas. Andrew Kimbrell, penulis “The Masculine Mystique” pernah mengemukakan hasil research-nya, “The Differences between Masculine and Feminine” dan menyebut salah satu karakter pria: strong drive for power and money. Terkait itu, rasanya “ngumpulin biaya kawin” menjadi jawaban yang lebih bisa diterima.

Laki-laki beranggapan pernikahan sebagai sebuah lembaga yang bisa mempertaruhkan power-nya. Karenanya, secara natural mereka akan menggunakan segala cara untuk tetap bisa mempertahankan power, termasuk dengan money. Nah, jika wedding dianggap sebagai gerbang awal pernikahan, maka bagi kaum Adam itu menjadi sarana aktualisasi (baca: pertunjukan) power dan money, yang ditujukan selain pada pasangannya tetapi juga banyak orang. Semakin dimahfumi pula jika laki-laki ingin mempertunjukkannya dengan sempurna dan total, yang bahkan sering kita denger, dengan biaya yang membelalakkan mata.

Guys, coba dengarkan pasangan Anda baik-baik. Is that what they’re really looking for? Yeah, mereka memang mempunyai their wedding fairy tales: white dress, flowers everywhere, big cake, and much more. Namun sungguh mereka justru lebih melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mendalam. Seperti yang diutarakan teman perempuan saya, “Marriage is happiness, security, lots of love and understanding.” It sounds cliché but don’t be sarcastic, having a “happily ever after” is her marriage fairy-tale. Admit that women really want it in their real life.

Back to Kimbrell. He said, perempuan mempunyai karakter kebalikan dari pria: power and money less important. Mereka nggak terobsesi kekuasaan dan uang kok. Nah, jawaban teman perempuan saya tadi pun sangat sesuai dengan karakteristik lain perempuan hasil temuan Kimbrell: that woman needs more intimacy –yang mana sebaliknya pria justru: needs less intimacy.

So, why bother with people’s opinion. Marriage is a phase where you will spend the rest of your life with someone who loves you, and I hope, who you really really love. Toh yang sebenarnya pasangan inginkan hanyalah Anda, cinta Anda. Well, jika kelak di suatu acara Anda keceplosan menjawab pertanyaan “Kapan kawin?” dengan, “May.” Lantang teruskan jawaban Anda dengan,”May is perfect!” dan saya yakin pasangan Anda akan memeluk Anda lebih erat.

Selasa, 10 November 2009

The Terminal*



Di YM hari ini:
Z: Eh sibuk nggak?
G: Edit-edit aja. Kenapa?

Z: Ketemuan yuk. Kangen.
G: Yuuk! Di mana jam berapa?

Z: Blok M yuk lama nggak ke sana. Jam 7-an.

Ya, saya hari ini bernostalgia dengan teman saya, Grace. Bukan dia objek nostalgianya. Tetapi lokasinya lah yang menjadi objek nostalgia kami. Dulu di awal-awal kepindahan saya ke Jakarta, mal ini begitu akrab. Bukan karena keunikan, apalagi "wah" atau apanya, tetapi karena Blok M (terutama terminalnya) adalah area yang tiap hari saya kunjungi. Maklum, sampai sekarang saya punya punya habit buruk, hanya mengenal rute seputaran kontrakan sampai kantor saya bekerja saja. Makanya kala itu yang saya tahu hanya Petukangan-Blok M-sepanjang Sudirman-Menteng. Mal Blok M (yang tak jauh dengan terminal) acap saya kunjungi karena menjadi tempat umum yang paling mudah saya jangkau. Terutama karena tak menyulitkan saya pulang ke kontrakan. Jadi kalau saya pulang kantor menyempatkan main ke sana, saya nggak kesulitan untuk pulang.

Nostalgia itu saya mulai ketika jam beranjak 36 menit dari angka 4 sore. Saya bergegas cabut dari kantor, melaju dengan transjakarta. Jam 6 sore, tepat saya mencapai terminal Blok M. Kewajiban Maghrib menggiring saya ke mushola di samping terminal. Mushola kecil, yang ... saya salut akan bersihnya. Fasilitas wudhunya yang cukup banyak (untuk mushola sekecil itu). Usai sholat, ketika memasang sepatu di tangga mushola, saya melihat seorang pria memakai peci putih menundukkan kepala untuk berdoa. Di barisan akhir, terbelakangi oleh shaf-shaf orang yang sedang sholat. Komat-komat mulutnya. Dan semakin gencar mulutnya bergerak ketika tangannya ia tengadahkan. Di situ saya mengenali wajahnya. Wajah yang pertama kali saya kenal minggu lalu. Di terminal Blok M.

Sekitar seminggu yang lalu saya menyengajakan diri untuk pulang ke rumah dari terminal Blok M. Sedang malas untuk terlalu sering berganti angkutan, seperti yang sehari-hari saya lakukan. Sambil menunggu kopaja 609 -moda jurusan pulang, saya duduk-duduk di pot-pot besar yang tersusun di lintasan terminal. Banyak pedagang asongan dan penjaja makanan, beberapa mondar-mandir. Mata saya tertumbuk pada seorang pedagang tahu gejrot. Duduk di atas sebuah bangku kayu kecil, pandangannya menunduk pada sesuatu yang ia pegang di depan dadanya. Al-Qur'an.

Saya takjub. Di jaman sekarang, dan di lokasi (terminal) yang biasa terkenal dengan kehidupan kerasnya, masih ada orang yang begitu menekuni sisi spriritualnya. Saya pun jadi ingin tahu lebih banyak tentang orang ini. Mendekati pikulannya, saya berjongkok untuk memesan seporsi tahu gejrot. Dia pun menawarkan bangku kecil yang ia duduki. Obrolan saya alirkan.

Si Mas penjual tahu gejrot itu ternyata asli Cirebon, sudah 3 tahun di Jakarta, namun baru 6 bulan berjualan mata dagangan itu. Dia tinggal di Kebayoran Lama, dan terminal Blok M adalah lokasi mangkalnya setelah seharian keliling. Dan dia baru akan beranjak pulang sekitar pukul 10 malam. Berjalan kaki, memanggul pikulan tahunya. Bolak-balik. Setiap hari. Rute yang luar biasa jauh. Sebelumnya ia tinggal di Kalibata, berjualan gorengan, pecel lele dan mengerjakan hal-hal lain.

Jawaban-jawaban yang singkat itu tak bernada sendu. Ucapnya, "Yang bisa saya lakukan ya usaha terus Mas. Apa saja, yang penting halal. Alhamdulillah, ini kan rezeki saya."

Kembali saya takjub. Saya syukuri pertemuan itu. Yang seolah menjadi pengingat saya untuk terus mensyukuri yang telah saya dapatkan. Dan ketika saya melihat lagi si penjual tahu gejrot itu di mushola, saya seperti menemukan optimisme yang terlihat dari rautnya saat memanjatkan doa. Saya yakin dia kelak akan menerima hal besar dalam hidupnya. Semoga.

Andai saya lebih punya kuasa untuk bisa membantunya.

Minggu, 08 November 2009

Duets*



"Kok suara kamu jadi bagus ya?"

Begitu Odit mengucapkan itu ketika sesi karaoke di Inul Vizta pada Jumat malam pekan lalu berakhir. Wah, bukan main bangganya saya. Lha wong selama ini saya selalu diragukan kemampuan menyanyinya. Ehm, kalau boleh jujur, itu bukan pujian pertama kali, he he. Si Grace juga pernah melambungkan saya dengan kalimat senada (Wakakak, mulai dari kalimat pertama sampai akhir paragraf ini, semuanya memuji diri sendiri).

Baiklah, saya mengakui bahwa saya memang menyukai menyanyi. Dari kapan? Dari kecil nampaknya. Tak jelas waktu pastinya. Tapi yang saya patri di otak, penampilan perdana saya adalah ketika TK. Duet bersama seorang teman untuk tampil on-air di radio lokal. Lagunya ... lupa, tentang berhitung, tentang menghitung buah jambu monyet. Kualitas menyanyi: katanya bagus, tapi namanya juga anak kecil, masa mentalnya mau dijatuhkan ama guru dan ibunya sendiri?

Lalu, kelas 5 saya jadi wakil SD untuk ikut perlombaan antar sekolah se-kecamatan. Weits, kaget kan kenapa bisa saya yang lolos? Entah (Haha, saya yang parah bisa kepilih, gimana peserta yang lain ya, he he). Bukan nepotisme lho, sebab saya harus mengikuti seleksi dulu di sekolah. Audisi! Walaupun bukan audisi terbuka (peserta audisi diajukan oleh guru-guru), tetap saja saya merasa bangga dan deg-degan. Saya jadi nominasi terakhir. Waktu itu lagu yang harus dinyanyikan adalah "Serumpun Padi". Sukses. Saya terpilih. Di tingkat kecamatan, lagu yang diwajibkan masih sama, ditambah dengan kategori pilihan: lagu daerah. Guru saya memilihkan: "Angin Mamiri". Hasilnya: Tak bisa berlanjut ke jenjang kabupaten. Kualitas menyanyi: masuk 10 besar saja, peringkat 8. Bukan parameter yang bisa dipercaya kan?

Tak ada aktivitas nyanyi lagi. Baru saat SMA saya mulai banyak menyanyi. Standar lah, ngumpul dengan teman-teman yang juga masih pada belajar main gitar, gonjreng-gonjreng diiringi suara nggak pitch kami. Saya mundur dari belajar gitar dan keyboard. Fokus sok bisa nyanyi, he he. Satu aib adalah saya merekam duet saya dengan adik saya, si Fina. Menyanyikan lagu "When You Believe" ala kami. Kualitas menyanyi: saya pernah dengarkan lagi rekaman itu dengan seorang teman. Ancuuuur. Still, saya tetap suka menyanyi.

Lewati masa kuliah, di mana saya sempat ikutan paduan suara, tapi nggak saya maksimalkan untuk melatih kemampuan menyanyi. Secuil masa itu, sering saya menyanyi teriak-teriak di kosan. Setel musik kenceng, bersih-bersih sambil menyanyi-nyanyi. Kadang berduet dengan Grace atau Alia (Mere). Kualitas menyanyi: PARAH. Pun kadang saat saya bersenandung, banyak teman otomatis berkomentar: "Diem donk!" atau "Jelek" atau yang agak sopan, "Nggak pitch, Ki!". Overall, kualitas saya masih, BURUK.

Makanya, ketika sudah bekerja, di awal-awal tak ada perbaikan komentar. Tapi tak menyurutkan hobi saya menyanyi. Saya memutar tape atau mp3 kencang, sambil teriak-teriak. Kualitas menyanyi: berisik (begitu kata anak-anak di kontrakan). Artinya cukup annoying kan?

Tahun-tahun berlalu, pada suatu sesi karaoke, setelah saya kelar menyanyikan lagu "My Baby You"-nya Marc Anthony, Grace berkomentar begini, "Bagus Ki barusan. Pitch." Saya bungah. Beberapa waktu berselang, di McD STC Senayan, masih bersama Grace, sambil ngobrol dan menunggu Alia (Item) saya tak sadar menyanyikan sepotong lagu Afgan, "Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki, dst dst." Ketika selesai Grace bilang, "Wow, picth. Bass kamu makin bagus ya." Saya makin bungah tentunya. Kualias menyanyi: lebih pe-de. Setidaknya kalau ditanya hobi, saya berani untuk menjawab: menyanyi.

PS: Bernyanyi duet sedang jadi tantangan buat saya. Bisa bagi suara itu seolah kelebihan yang sangat layak untuk dimasukkkan ke CV.

Kamis, 05 November 2009

Sesame Street*



Ketika kuliah dulu, teman-teman suka mengomentari kemampuan Bahasa Inggris saya yang payah dengan, "Dulu nonton Sesame Street nggak sih?". Saya dengan polosnya menjawab, "Enggak. Kenapa emang?" Biasanya mereka hanya ber-"Ooooh pantesan," atau "Nggak nyampe Ponorogo ya?" atau diam saja, pasrah memaklumi.

Saya memang lahir dan besar sampai SMA di kota kecil (tercinta) Ponorogo. Pada tahun 90-an awal ketika TV swasta bermunculan ternyata area kota saya itu tak terjangkau. Makanya ketika ngobrol-ngobrol dengan teman-teman ketika saya berpindah ke Bandung untuk kuliah, banyak hal yang saya nggak tahu tentang program TV swasta jaman kecil. Termasuk si Jalan Sesama itu ... Sesame Street maksudnya. Konon tuh program sangat membantu berlatih English. Gituuh.

Nah, memori tentang Sesame Street nongol lagi pagi ini. Tepatnya dari kemarin sih.

Sore-sore seorang rekan kantor saya berteriak, "Google hari ini lucu bangeeeeet!" Beberapa dari kami heboh melihat, termasuk saya. Dan benar, huruf "L" dalam tampilan "Google" diganti dengan kaki kuning si Big Bird. Ternyata tanggal 4 November ini, merupakan ulang tahun ke-40 acara yang tayang perdana pada tahun 1969. Wow! (Yang bikin program ini pahalanya pasti banyak, he he)


Dan ingatan saya akan obrolan Sesame Street masa kuliah pun semakin menguat lagi hari ini. Ketika saya membuka situs google.co.id yang menampilkan dua mata Elmo sebagai pengganti huruf "O"-nya.



Jadi bertanya-tanya, mungkin kalau saya kecil banyak menonton acara ini, mungkin English saya jauh lebih baik kali ya?

Rabu, 04 November 2009

El Transexual*



Masih seputar nyervis kipas angin.

Saya menyervis di teras rumah, yang mana nih rumah berada di pinggir jalan yang ramai. Posisi kontrakan ini berada di tikungan sehingga mau tak mau kendaraan akan memelankan laju. Orang akan mudah melihat teras rumah saya. Termasuk saya yang sedang sok-sokan jadi mekanik dengan kostum andalan saya ketika di rumah: kaos singlet dan celana pendek.

Nah ... in the middle of nyervis, sayup-sayup saya mendengar lagu lawas Britney Spears. Saya melirik ke arah jalan, beberapa motor lewat. Saya berpikir, "Busyet, kenceng amat muter lagu. Norak kaleee masang speaker di motor." Kembali mengutak-atik, tuh lagu semakin mendekat.

"Maaas!" dengan cengkok lebay.

Saya sontak menoleh ke pagar yang memang sedikit terbuka. Seseorang meliuk-liukkan tubuh berusaha mengikuti ritme lagu Britney. Lebih tepat: bagian pinggang dan bokongnya doank yang ia gerakkan. Kedua tangannya menjadikan pagar sebagai tumpuan goyang. Alamak! Orang itu memakai celana jins ketat hitam, plus atasan semacam kemben warna hitam pula dengan pinggiran emas, mengenakan wig coklat pirang, make up tebal, bibir bergincu merah.

"Mampus gue, ada banci," begitu hati menyeru. Tangan kanan memegang obeng, sebelah kiri dinamo kipas. Masih dalam hati, saya menyeru lagi "Kalau sampe dia macem-macem kulempar jidatnya pake dinamo."

"Maaaas!" tuh wadam memanggil lagi, masih sambil meliuk.

Lalu saya berteriak, "Roool!" memanggil teman saya, biar dia ke luar rumah memberi uang.

Tak ada jawaban, akhirnya saya masuk, mencari recehan di sekitar TV. Sambil berjalan ke arah pintu, saya menghitung, "Kok nggak nyampe gopek nih. Wah, bisa ngamuk dia!" Saya mencari lagi recehan lain. Setelah terasa cukup pantas, saya ke luar dan menyerahkannya ke Mas eh Mbak itu. Dengan hati-hati ... karena saya takut tiba-tiba dia narik tangan saya atau semacamnya. Untung dia hanya ber-"Terima kasih, Mas," dan ngeloyor pergi. Hffff!

Saya mendapatkan malam yang warna-warni hari ini.

PS: tidak memandang sebelah mata pada kaum wadam, kaget saja tadi. Sukses terus ya Mas/Mbak!

The Fan*



Bukan ... ini bukan tentang penggemar. Terjemahan yang lain? Yup, kipas angin.

Ceritanya begini, kipas angin saya mendadak ngadat. Hm ... sebenarnya dari seminggu terakhir doi jadi berisik. Bunyinya? Jika diandaikan bahannya dari besi, ini kaya baling-baling karatan yang dipaksakan untuk bekerja. Saya yakini ada sesuatu terjadi di dalamnya. Nah, malam ini nggak tepat banget deh. Lha wong saya dah mandi, dah bersiap tidur, tuh kipas kok ngambek. Ugh! Daripada tar malem tidur nggak nyenyak, akhirnya saya bongkar saja.

Saya tarik kipas angin yang nyaris setinggi badan saya itu ke teras. Karena kalau di dalem rumah pasti akan bikin kotor. Debuan. Bersenjatakan obeng dan handuk kumal, kuoperasi tuh perkakas. Modal nekat, dengan optimisme: HARUS BERES, MALAM INI NGGAK MAU KEPANASAN. Satu per satu kupretelin onderdil-onderdilnya. Hingga akhirnya sampe pada inti permasalahan. Dinamo seret. Kurang pelumas.

Wadoooh, pe-er sekali. Malem-malem begini nyari di mana coba. Akhirnya saya nanya ke temen-temen sekontrakan, kali aja di motor mereka nyimpen pelumas. Atau di kamar mereka. Pelumas apapun, he he.

Tapi nihil.

Saya muterin rumah. Ketika melewati dapur, saya melihat sekelebat bayangan botol ... OLIVE OIL. Wakakakak, akhirnya kusamber saja. Lalu kuteteskan pada dinamo. Kuputar-putar tuas dinamonya pake tangan. "Creg creg" ada bunyi seperti menggilas pasir di dalam sana. Agak berat putarannya. Tapi lama-lama ... mulus ... ga seret lagi. Yippie!

Kuberi beberapa tetes lagi, lap-lap pake handuk kumal biar ga terlalu oily. Lalu kupasang-pasang lagi onderdil-onderdilnya. Kucolokin ke listrik. Baling-balingnya itu langsung berputar menghasilkan hembusan angin. Girang, dan senang karena malam ini akan tidur dengan kesejukan lagi.

PS: Semoga bekas OLIVE OIL-nya nggak dirubung semut. He he.

Selasa, 03 November 2009

Life As A House*



Akhirnya terprovokasi untuk membuat blog ... lagi. Yup, saya menggunakan kata "lagi". Sebab, membuat blog seolah menjadi ritual setahun sekali buat saya sejak tahun 2003 lalu. Mulai dari blogspot (bahkan sampai dua kali) terus friendster, terus multiply, facebook, wordpress ... dan kini blogspot lagi. Yang nyata, apapun "tuan rumah"-nya, ini menunjukkan bahwa konsisten menulis itu sulit. Atau mungkin lebih personal dari itu ... menulis tentang diri kita itu memang sulit.

Makanya sekarang saya memberanikan diri untuk menulis lagi, tentang hidup saya, pikiran saya, dan emosi saya. Makanya pula saya kembali menggunakan "tuan rumah" yang sama, tempat saya memulai nge-blog bertahun yang lalu.

Selamat datang di Rumah Pohon Teras Belakang saya!

Nama blog ini adalah bagian dari kisah personal saya. Sekitar 18 tahun yang lalu Bapak membuat kejutan. Sebuah rumah-rumahan mungil di bawah pohon jambu, di dekat teras belakang rumah. Sebenarnya sih jauh dari tampilan sebuah rumah, karena bentuknya seperti panggung kecil saja. Bertinggi 3 meter dari tanah, dengan luas 2 x 2 meter, dengan pagar pengaman setinggi setengah meter di setiap sisinya. Tangga kayu kokoh dibangun untuk akses naik turun kami berempat: kakak, saya dan kedua adik saya.

Kegirangan, kami selanjutnya dengan kreatif kami menjadikan kain spanduk sebagai atap, membawa beberapa mainan kami ke sana. Bahkan kedua adik perempuan saya sering bermain tamu-tamuan bersama teman-teman yang mereka ajak. Paling seru adalah saat panen jambu. Kami seolah menjadi saudagar jambu. Hanya dengan mendongak, menjulurkan tangan dari atas rumah pohon, kami bisa memetik buah-buah tersebut dengan bebas. Tidak ada teriakan Ibu, "Awas jatuh," atau "Hati-hati, Zak!" dari bawah yang biasanya berulang-ulang beliau sampaikan ketika dulu kami memanjat pohon jambu itu dengan liar. Rumah pohon itu pun sekaligus kami jadikan sebagai lokasi ngerujak. Seringkali pula kami mengundang sepupu-sepupu untuk datang. Bermain bersama, dan ditutup dengan ... ngerujak. Itu rumah kami berempat.

Saya sendiri, seringkali menjadikan rumah pohon itu sebagai tempat belajar. Bukan sok rajin, tapi berbagi kamar dengan kakak membuat saya sering terganggu. Lebih tepatnya, membuat saya tak punya privasi. Ha ha, saya mungkin berlebihan menggunakan kata "privasi" ... rasanya terlalu dewasa untuk seorang saya yang masih berumur 9 tahun. Tapi yang jelas saya ingat, saya pernah sangat kesal pada kakak saya, hingga akhirnya saya ngambek dan ngumpet di rumah pohon itu. Saya sampai ketiduran, hingga akhirnya dibangunkan Ibu untuk turun pindah ke kamar ketika sudah hampir tengah malam. Emosi yang hadir saat berantem dengan kakak atau adik, atau terkadang dimarahin Bapak/Ibu sering saya buang di rumah pohon itu. Tak marah-marah, tak banting-banting barang, kadang dengan berdiam diri atau melakukan hal-hal yang saya suka di sana sudah cukup mengalihkan perhatian. Membaca, mendengarkan radio, memetik jambu, atau sekedar melihat hijaunya sawah yang terhampar di balik pagar rumah.

Terinspirasi itu, saya pun ingin menjadikan rumah pohon yang ini sebagai tempat saya untuk bisa bebas, membuka privasi. Tentang diri saya dan tentang hidup saya. Semoga.