
Sebenarnya hasrat nulis sih kerap hadir. Tapi entah kenapa selalu tidak terselesaikan. Hanya menjadi 'draft' yang tersimpan di 'dashboard' atau bahkan nyembul di otak sejenak untuk kemudian tak berbekas karena saya tak mendokumentasikannya.
Pagi ini saya terinspirasi dari ... bengong. Hi hi, karena dah mati gaya nonton TV (2 hari libur panjang kemarin saya habiskan untuk menonton beberapa DVD), dan merasa kaya membuang waktu percuma. So, saya memaksa diri untuk membuat situasi yang bisa mendorong menulis.
Nah, berikut beberapa situasi yang selalu manjur menjadi faktor pendorong.
- Membaca majalah. Yup, I'm a magazine person. Mulai saya kecil sepertinya, ketika Ibu saya berlangganan majalah Bobo, Taman Melati, Donal Bebek sebagai bacaan anak-anaknya. Sayalah yang paling rajin menyimpannya. Bahkan Lebaran tahun ini ketika mudik, saya masih menemukan kumpulan majalah yang saya simpan. Hadiah-hadiah dari Bobo pun masih utuh. Tentu sekarang bukan majalah seperti itu yang menginspirasi saya. Yang lebih sesuai umur lah, he he. Khusus pagi ini, saya baru saja membaca Men's Health edisi November 2009. Tak ada artikel khusus. Hanya, membaca karya-karya orang membuat saya ingin berkompetisi membuat tulisan.
- Menonton film. Terutama film-film yang menampilkan tuturan 'pelaporan' kegiatan sehari-hari (bisa juga tokoh utama sebagai naratornya). Misalnya, "Sex and the City", "Grey's Anatomy" dan "Marley and Me" -yang terakhir saya tonton sih "The Soloist". Atau, yang juga menggunakan narator (meski bukan si karakter utama): seperti "(500) Days of Summer" atau "Watchmen". Film-film jenis ini seolah menyadarkan saya bahwa di sekitar saya banyak hal yang sebenarnya bisa menjadi bahan untuk ditulis.
- Membaca kolom. Jika saya tadi mengkhususkan diri sebagai penyuka media majalah, faktor pendorong yang ini menunjukkan kesukaan saya pada penulisnya. Lebih tepat lagi, pada gaya tutur penulisnya. Saya suka tulisan dengan gaya tutur narasi sehari-hari -seperti juga jenis film yang saya suka di atas. Membaca kolom seperti mengikuti kehidupan penulis secara bersambung. Dari tulisan satu ke tulisan berikutnya secara tak langsung menghadirkan karakter penulis pada kehidupan nyatanya. Termasuk pemikirannya terhadap hidup. Bijaknya, kita seperti berkaca pada tulisannya. That's why I love blog walking; ada beberapa blog orang yang rutin saya kunjungi. Pagi ini saya baru membaca kolom Candace Bushnell yang telah dibukukan: "Sex and the City" -Anda pasti tahu. Selain itu saya juga suka "Parodi"-nya Samuel Mulia di Kompas, tulisan-tulisan Mark Simpson, dan juga kolom "Bahasa" di Tempo.
Intinya jika sudah terkondisikan, tulis saja apapun yang ada di otak Anda.
Happy writing!











