
"Kok suara kamu jadi bagus ya?"
Begitu Odit mengucapkan itu ketika sesi karaoke di Inul Vizta pada Jumat malam pekan lalu berakhir. Wah, bukan main bangganya saya. Lha wong selama ini saya selalu diragukan kemampuan menyanyinya. Ehm, kalau boleh jujur, itu bukan pujian pertama kali, he he. Si Grace juga pernah melambungkan saya dengan kalimat senada (Wakakak, mulai dari kalimat pertama sampai akhir paragraf ini, semuanya memuji diri sendiri).
Baiklah, saya mengakui bahwa saya memang menyukai menyanyi. Dari kapan? Dari kecil nampaknya. Tak jelas waktu pastinya. Tapi yang saya patri di otak, penampilan perdana saya adalah ketika TK. Duet bersama seorang teman untuk tampil on-air di radio lokal. Lagunya ... lupa, tentang berhitung, tentang menghitung buah jambu monyet. Kualitas menyanyi: katanya bagus, tapi namanya juga anak kecil, masa mentalnya mau dijatuhkan ama guru dan ibunya sendiri?
Lalu, kelas 5 saya jadi wakil SD untuk ikut perlombaan antar sekolah se-kecamatan. Weits, kaget kan kenapa bisa saya yang lolos? Entah (Haha, saya yang parah bisa kepilih, gimana peserta yang lain ya, he he). Bukan nepotisme lho, sebab saya harus mengikuti seleksi dulu di sekolah. Audisi! Walaupun bukan audisi terbuka (peserta audisi diajukan oleh guru-guru), tetap saja saya merasa bangga dan deg-degan. Saya jadi nominasi terakhir. Waktu itu lagu yang harus dinyanyikan adalah "Serumpun Padi". Sukses. Saya terpilih. Di tingkat kecamatan, lagu yang diwajibkan masih sama, ditambah dengan kategori pilihan: lagu daerah. Guru saya memilihkan: "Angin Mamiri". Hasilnya: Tak bisa berlanjut ke jenjang kabupaten. Kualitas menyanyi: masuk 10 besar saja, peringkat 8. Bukan parameter yang bisa dipercaya kan?
Tak ada aktivitas nyanyi lagi. Baru saat SMA saya mulai banyak menyanyi. Standar lah, ngumpul dengan teman-teman yang juga masih pada belajar main gitar, gonjreng-gonjreng diiringi suara nggak pitch kami. Saya mundur dari belajar gitar dan keyboard. Fokus sok bisa nyanyi, he he. Satu aib adalah saya merekam duet saya dengan adik saya, si Fina. Menyanyikan lagu "When You Believe" ala kami. Kualitas menyanyi: saya pernah dengarkan lagi rekaman itu dengan seorang teman. Ancuuuur. Still, saya tetap suka menyanyi.
Lewati masa kuliah, di mana saya sempat ikutan paduan suara, tapi nggak saya maksimalkan untuk melatih kemampuan menyanyi. Secuil masa itu, sering saya menyanyi teriak-teriak di kosan. Setel musik kenceng, bersih-bersih sambil menyanyi-nyanyi. Kadang berduet dengan Grace atau Alia (Mere). Kualitas menyanyi: PARAH. Pun kadang saat saya bersenandung, banyak teman otomatis berkomentar: "Diem donk!" atau "Jelek" atau yang agak sopan, "Nggak pitch, Ki!". Overall, kualitas saya masih, BURUK.
Makanya, ketika sudah bekerja, di awal-awal tak ada perbaikan komentar. Tapi tak menyurutkan hobi saya menyanyi. Saya memutar tape atau mp3 kencang, sambil teriak-teriak. Kualitas menyanyi: berisik (begitu kata anak-anak di kontrakan). Artinya cukup annoying kan?
Tahun-tahun berlalu, pada suatu sesi karaoke, setelah saya kelar menyanyikan lagu "My Baby You"-nya Marc Anthony, Grace berkomentar begini, "Bagus Ki barusan. Pitch." Saya bungah. Beberapa waktu berselang, di McD STC Senayan, masih bersama Grace, sambil ngobrol dan menunggu Alia (Item) saya tak sadar menyanyikan sepotong lagu Afgan, "Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki, dst dst." Ketika selesai Grace bilang, "Wow, picth. Bass kamu makin bagus ya." Saya makin bungah tentunya. Kualias menyanyi: lebih pe-de. Setidaknya kalau ditanya hobi, saya berani untuk menjawab: menyanyi.
PS: Bernyanyi duet sedang jadi tantangan buat saya. Bisa bagi suara itu seolah kelebihan yang sangat layak untuk dimasukkkan ke CV.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar