Selasa, 10 November 2009

The Terminal*



Di YM hari ini:
Z: Eh sibuk nggak?
G: Edit-edit aja. Kenapa?

Z: Ketemuan yuk. Kangen.
G: Yuuk! Di mana jam berapa?

Z: Blok M yuk lama nggak ke sana. Jam 7-an.

Ya, saya hari ini bernostalgia dengan teman saya, Grace. Bukan dia objek nostalgianya. Tetapi lokasinya lah yang menjadi objek nostalgia kami. Dulu di awal-awal kepindahan saya ke Jakarta, mal ini begitu akrab. Bukan karena keunikan, apalagi "wah" atau apanya, tetapi karena Blok M (terutama terminalnya) adalah area yang tiap hari saya kunjungi. Maklum, sampai sekarang saya punya punya habit buruk, hanya mengenal rute seputaran kontrakan sampai kantor saya bekerja saja. Makanya kala itu yang saya tahu hanya Petukangan-Blok M-sepanjang Sudirman-Menteng. Mal Blok M (yang tak jauh dengan terminal) acap saya kunjungi karena menjadi tempat umum yang paling mudah saya jangkau. Terutama karena tak menyulitkan saya pulang ke kontrakan. Jadi kalau saya pulang kantor menyempatkan main ke sana, saya nggak kesulitan untuk pulang.

Nostalgia itu saya mulai ketika jam beranjak 36 menit dari angka 4 sore. Saya bergegas cabut dari kantor, melaju dengan transjakarta. Jam 6 sore, tepat saya mencapai terminal Blok M. Kewajiban Maghrib menggiring saya ke mushola di samping terminal. Mushola kecil, yang ... saya salut akan bersihnya. Fasilitas wudhunya yang cukup banyak (untuk mushola sekecil itu). Usai sholat, ketika memasang sepatu di tangga mushola, saya melihat seorang pria memakai peci putih menundukkan kepala untuk berdoa. Di barisan akhir, terbelakangi oleh shaf-shaf orang yang sedang sholat. Komat-komat mulutnya. Dan semakin gencar mulutnya bergerak ketika tangannya ia tengadahkan. Di situ saya mengenali wajahnya. Wajah yang pertama kali saya kenal minggu lalu. Di terminal Blok M.

Sekitar seminggu yang lalu saya menyengajakan diri untuk pulang ke rumah dari terminal Blok M. Sedang malas untuk terlalu sering berganti angkutan, seperti yang sehari-hari saya lakukan. Sambil menunggu kopaja 609 -moda jurusan pulang, saya duduk-duduk di pot-pot besar yang tersusun di lintasan terminal. Banyak pedagang asongan dan penjaja makanan, beberapa mondar-mandir. Mata saya tertumbuk pada seorang pedagang tahu gejrot. Duduk di atas sebuah bangku kayu kecil, pandangannya menunduk pada sesuatu yang ia pegang di depan dadanya. Al-Qur'an.

Saya takjub. Di jaman sekarang, dan di lokasi (terminal) yang biasa terkenal dengan kehidupan kerasnya, masih ada orang yang begitu menekuni sisi spriritualnya. Saya pun jadi ingin tahu lebih banyak tentang orang ini. Mendekati pikulannya, saya berjongkok untuk memesan seporsi tahu gejrot. Dia pun menawarkan bangku kecil yang ia duduki. Obrolan saya alirkan.

Si Mas penjual tahu gejrot itu ternyata asli Cirebon, sudah 3 tahun di Jakarta, namun baru 6 bulan berjualan mata dagangan itu. Dia tinggal di Kebayoran Lama, dan terminal Blok M adalah lokasi mangkalnya setelah seharian keliling. Dan dia baru akan beranjak pulang sekitar pukul 10 malam. Berjalan kaki, memanggul pikulan tahunya. Bolak-balik. Setiap hari. Rute yang luar biasa jauh. Sebelumnya ia tinggal di Kalibata, berjualan gorengan, pecel lele dan mengerjakan hal-hal lain.

Jawaban-jawaban yang singkat itu tak bernada sendu. Ucapnya, "Yang bisa saya lakukan ya usaha terus Mas. Apa saja, yang penting halal. Alhamdulillah, ini kan rezeki saya."

Kembali saya takjub. Saya syukuri pertemuan itu. Yang seolah menjadi pengingat saya untuk terus mensyukuri yang telah saya dapatkan. Dan ketika saya melihat lagi si penjual tahu gejrot itu di mushola, saya seperti menemukan optimisme yang terlihat dari rautnya saat memanjatkan doa. Saya yakin dia kelak akan menerima hal besar dalam hidupnya. Semoga.

Andai saya lebih punya kuasa untuk bisa membantunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar