Tampilkan postingan dengan label Headache. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Headache. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 April 2011

Headache*



Saya menulis ini dengan tancapan Bokoma di kepala saya. Bokoma? Yeah, teman-teman saya, bahkan saya sendiri menyebutnya sebagai pengocok telur, karena wujudnya yang mirip sedemikian rupa. Si Bokoma ini memang ditujukan untuk memijat kepala, untuk me-rileks-kan saraf-saraf di kepala. Bagi saya pribadi, alat ini merupakan penyelamat ketika migrain saya menyerang. Penyakit yang suka muncul dan lenyap dengan tiba-tiba.


Seyakin saya, migrain ini sudah saya alami sejak SMA. Dengan frekuensi yang semakin lama semakin sering. Dengan durasi tak terkira. Bisa beberapa jam, bisa semalam, atau paling lama ... 2 minggu. Dulu bisa saja si migrain absen selama 6 bulan, namun mendadak nongol seminggu sekali. Penyebabnya pun tak bisa saya prediksi, bisa karena bangun tidur kaget, kecapekan, kurang olahraga, kurang minum air putih, atau bisa tanpa sebab apapun. Dulu pernah ketika saya masih kuliah, si migrain nongol ketika saya pulang jalan kaki dari kosan temen. Hilangnya pun juga masih belum terpola. Bisa dengan makan bergizi, bisa dengan dipijat, bisa dengan mandi, mengguyur kepala dengan air dingin, bahkan ... bisa dengan nyanyi-nyanyi.

Banyak yang bilang saya stres. Masuk akal. Kadang memang muncul ketika load kerjaan banyak, atau dulu ketika jelang ujian akhir. Tapi seperti yang saya sebut tadi, bisa saja tanpa alasan apapun. Sering juga ketika saya pikir load pikiran saya banyak, si migrain tak hadir sama sekali (Alhamdulillah). Nggak minum obat? Sudah saudara-saudara. Dulu, minum panadol merah bisa sembuh. Tetapi lama-kelamaan saya minum 2 tablet sekaligus pun tak mempan. Dan akhirnya saya berhenti karena nggak mau meracuni tubuh saya dengan obat mubazir. Toh si migrain itu suka lenyap seenak jidatnya.

Nggak ke dokter? Yup. Meski saya akui terakhir kali saya ke dokter adalah pada tahun 2004 lalu. Mulai dokter umum, dokter mata, dokter gigi, bahkan ke dokter saraf. Katanya ... "Biasa kok untuk seumuran ini (dulu masih awal 20-an). Kecapekan dan pola hidup tidak sehat." Kira-kira demikian. Saya mikirnya, "Hmm ... bisa jadi, namanya juga anak kos." Tetapi ketika saya (merasa) sudah menerapkan hidup sehat, rasanya si migrain masih mampir saja. Obat dokter pun tak berkhasiat menghalaunya. Jadi ... tak ke dokter lagi. Sangat mungkin saya salah. Mestinya saya mendatangi dokter lain. Second opinion-lah setidaknya.

Nah, hari ini, Minggu, adalah hari ke-4 pusing saya kambuh. Sejak Rabu malam saya merasakannya (Jumat saya sampai tak masuk kantor). Tidak terus menerus memang, tetapi setiap hari ada momen yang rasanya cenut-cenutnya klimaks. Seperti hari ini. Bangun pagi saya merasa lebih baik, dengan perkiraan saya sudah sembuh sempurna. Ternyata ... salah. Tidur siang sejenak sekitar sejam, malah membuahkan nyut-nyutan dahsyat kala bangun. Si migrain masih bercokol. Akhirnya saya lawan dengan mandi "mewah air". Maksudnya, saya alirkan air ke kepala dari kran, terus rendam kepala di ember, keramas, pijat-pijat kepala, lalu mengguyur kepala dengan 2 ember air. Hasilnya ... membaik. Lalu, sengantuk-ngantuknya saya siang tadi, saya tidak berani memejamkan mata. Takut kumat lagi.



Mengantisipasi agar tak terserang lagi. Saya mencoba rileks. Banyak minum air putih, dan ... menancapkan Bokoma. So far ... it works. Dan saya harus berterima kasih pada siapaun pencipta alat ini.