Selasa, 12 Juli 2011

Moulin Rouge*



Saya suka film musikal (makanya saya juga suka film-film India, he he). Melihat adegan-adegan di dalamnya, rasanya hidup jadi lebih indah. Bahagia harus nyanyi, sedih harus nyanyi, marah nyanyi ... menyenangkan.

Dan salah satu film musikal yang selalu saya suka, ya ini ... Moulin Rouge. Music Director-nya (yang juga sekaligus sutradaranya, Baz Luhrmann) memang brilian.

Dia padu padankan lagu-lagu lawas populer melalui aransemen baru, bahkan di-medley. Ada "Your Song"-nya Elton John, atau "I Will Always Love You"-nya Dolly/Whitney. Tak ketinggalan, berbagai genre musik pun dikocok menjadikan rasa musik dalam film ini begitu penuh. Kita bisa nemu "The Show Must Go On"-nya Queen jadi versi opera, "Nature Boy"-nya David Bowie, atau yang paling terkenal "Lady Marmalade"-nya Patti LaBelle (dibuat grande melalui kualitas vokal para diva: Aguilera, Pink, Mya, Lil' Kim, Missy Elliot dan diganjar Oscar).

Belum lagi tembang Madonna "Like A Virgin" dan "Material Girl"; juga hit The Police "Roxanne" yang dibuat dengan versi tango. Weit, masih ada pula "Smell Like Teen Spirit"-nya Nirvana, dan "Chamma Chamma" yang dinyanyi ulang oleh penyanyi India favorit saya, Alka Yagnik bersama Nicole Kidman. Lagu berbahasa Prancis yang seksi, "Complainte de la Butte" pun ada, atau lagu techno macam "Because We Can" garapan Fatboy Slim. Luar biasa!

Oya, kemauan Mr. Luhrmann untuk memaksa para aktornya menyanyi, terutama Nicole dan Ewan McGregor semakin mengeluarkan emosi dalam adegan yang mereka jalani. Perfecto!

Nah, mari biarkan saya ikut-ikutan untuk menyanyi seperti mereka. Seperti sekarang ini, di kubikal saya, di kantor yang masih sepi. :D

Minggu, 03 April 2011

The Karaoke King*




No no no ... I'm way too far from that title.
But, to be honest, I'm proudly present myself as a Karaoke Fling.
Because I think me and karaoke have an intimate relationship. Ha ha.

Hampir satu setengah tahun lalu saya menulis tentang kesukaan saya menyanyi (selengkapnya di sini), dan ternyata saya semakin tak bisa lepas dari kegemaran ini. Yah, sedikit lebih pe-de untuk melakukannya, bahkan kalau mengisi kolom "hobi" atau "kegiatan mengisi waktu luang" pada formulir melamar kerja atau blangko apapun, saya berani untuk menuliskan "menyanyi" di dalamnya.

And I take the bigger steps about it.
Yup, saya mulai berani untuk menyanyi di depan umum sekarang. Bukan hanya di rumah, bukan hanya di kamar mandi, bukan di bilik karaoke!!!

Bukan, bukan terus ikut ajang kompetisi dsb sih, atau malah berniat menjadi penyanyi profesional. Hanya menguji kemampuan diri. Itu niatnya. Dan, bagi saya pribadi, berani melakukan itu merangsang keberanian saya di bidang lain. Termasuk pekerjaan. Membuat saya lebih berani mendorong diri untuk melampaui "batasan" yang selama ini saya kira menjadi tepian kemampuan saya.

Saya memulainya dengan menyanyi di ajang pernikahan teman saya. Pertama kali, ketika ... tamu sudah mulai sepi. Masih takut ditimpuk fla puding. He he. Masa berlalu. Akhirnya mulai ga peduli dengan pendapat orang. Kalau pengen nyanyi di kawinan, maju terus pantang mundur. Meski banyak tamu.

Kemudian, diberi kesempatan oleh teman yang mempunyai bisnis kirim-ucapan-lagu-secara-langsung. Saya menyanyi lagu Ne-Yo "So Sick" dengan iringan gitar saja di depan klien pemesan jasa. Seneng banget ketika melihat yang dikirimi lagu itu menangis haru. Yah, saya tahu dia menangis bukan karena suara saya, hi hi. Tetapi itu cukup menguatkan semangat melagu saya.

Lalu, seorang teman lain memberi kesempatan juga. Saya menyanyi di ... pusat perbelanjaan. Dan beberapa kali. What a prestation (:p). Terus ... dibayar pula. Ah, senangnya. Senang juga mendapati pengunjung mal menoleh ... atau bahkan cukup melirik saja ketika saya menyanyi. Pernah juga mendapati pengunjung yang mengarahkan ponselnya pada saya. Dikira artis baru kali, (atau malah mengira, anggota baru Teamlo) whuahaha. Senang!

Saya ingat sekali betapa buruknya senandung yang keluar dari mulut saya. Ada lho kaset rekaman yang membuktikannya. Ha ha. Juga banyak teman yang menjadi saksi betapa "mengganggu"-nya suara saya di kuping mereka. Dan sekarang, saya gembira, setidaknya mereka tidak menyuruh diam ketika saya bernyanyi, he he.

Headache*



Saya menulis ini dengan tancapan Bokoma di kepala saya. Bokoma? Yeah, teman-teman saya, bahkan saya sendiri menyebutnya sebagai pengocok telur, karena wujudnya yang mirip sedemikian rupa. Si Bokoma ini memang ditujukan untuk memijat kepala, untuk me-rileks-kan saraf-saraf di kepala. Bagi saya pribadi, alat ini merupakan penyelamat ketika migrain saya menyerang. Penyakit yang suka muncul dan lenyap dengan tiba-tiba.


Seyakin saya, migrain ini sudah saya alami sejak SMA. Dengan frekuensi yang semakin lama semakin sering. Dengan durasi tak terkira. Bisa beberapa jam, bisa semalam, atau paling lama ... 2 minggu. Dulu bisa saja si migrain absen selama 6 bulan, namun mendadak nongol seminggu sekali. Penyebabnya pun tak bisa saya prediksi, bisa karena bangun tidur kaget, kecapekan, kurang olahraga, kurang minum air putih, atau bisa tanpa sebab apapun. Dulu pernah ketika saya masih kuliah, si migrain nongol ketika saya pulang jalan kaki dari kosan temen. Hilangnya pun juga masih belum terpola. Bisa dengan makan bergizi, bisa dengan dipijat, bisa dengan mandi, mengguyur kepala dengan air dingin, bahkan ... bisa dengan nyanyi-nyanyi.

Banyak yang bilang saya stres. Masuk akal. Kadang memang muncul ketika load kerjaan banyak, atau dulu ketika jelang ujian akhir. Tapi seperti yang saya sebut tadi, bisa saja tanpa alasan apapun. Sering juga ketika saya pikir load pikiran saya banyak, si migrain tak hadir sama sekali (Alhamdulillah). Nggak minum obat? Sudah saudara-saudara. Dulu, minum panadol merah bisa sembuh. Tetapi lama-kelamaan saya minum 2 tablet sekaligus pun tak mempan. Dan akhirnya saya berhenti karena nggak mau meracuni tubuh saya dengan obat mubazir. Toh si migrain itu suka lenyap seenak jidatnya.

Nggak ke dokter? Yup. Meski saya akui terakhir kali saya ke dokter adalah pada tahun 2004 lalu. Mulai dokter umum, dokter mata, dokter gigi, bahkan ke dokter saraf. Katanya ... "Biasa kok untuk seumuran ini (dulu masih awal 20-an). Kecapekan dan pola hidup tidak sehat." Kira-kira demikian. Saya mikirnya, "Hmm ... bisa jadi, namanya juga anak kos." Tetapi ketika saya (merasa) sudah menerapkan hidup sehat, rasanya si migrain masih mampir saja. Obat dokter pun tak berkhasiat menghalaunya. Jadi ... tak ke dokter lagi. Sangat mungkin saya salah. Mestinya saya mendatangi dokter lain. Second opinion-lah setidaknya.

Nah, hari ini, Minggu, adalah hari ke-4 pusing saya kambuh. Sejak Rabu malam saya merasakannya (Jumat saya sampai tak masuk kantor). Tidak terus menerus memang, tetapi setiap hari ada momen yang rasanya cenut-cenutnya klimaks. Seperti hari ini. Bangun pagi saya merasa lebih baik, dengan perkiraan saya sudah sembuh sempurna. Ternyata ... salah. Tidur siang sejenak sekitar sejam, malah membuahkan nyut-nyutan dahsyat kala bangun. Si migrain masih bercokol. Akhirnya saya lawan dengan mandi "mewah air". Maksudnya, saya alirkan air ke kepala dari kran, terus rendam kepala di ember, keramas, pijat-pijat kepala, lalu mengguyur kepala dengan 2 ember air. Hasilnya ... membaik. Lalu, sengantuk-ngantuknya saya siang tadi, saya tidak berani memejamkan mata. Takut kumat lagi.



Mengantisipasi agar tak terserang lagi. Saya mencoba rileks. Banyak minum air putih, dan ... menancapkan Bokoma. So far ... it works. Dan saya harus berterima kasih pada siapaun pencipta alat ini.

Minggu, 19 Desember 2010

A Single Man*



I am single. Yes.

Am I miserable? Noooo!!!!

Menyadari bahwa teman saya bahagia dengan pasangannya itu sudah menjadi kebahagian bagi saya. Yang jelas, menjadikan "mempunyai pasangan" sebagai faktor "bahagia", itu yang menyedihkan.

Me, proud to be single.

Sabtu, 13 Februari 2010

Drillbit Taylor*



Nah kan, benar-benar euphoria. Hampir dua bulan saya tidak mengisi blog ini. Malah ini menjadi postingan pertama saya di tahun 2010.

Talking about euphoria, tulisan ini adalah lanjutan kegilaan saya pada Taylor Swift, he he (sudah pernah saya ungkapkan dalam tulisan Taylor* sebelumnya).



Yup, si gadis manis, the Country Music Princess mewarnai hari-hari saya. Catat: hari-hari dicela oleh teman-teman kantor.

Contoh: seorang teman kantor kini sering meneriaki saya (dari kubikalnya) dengan: "You belong with meeeeeee", kalau saya ketahuan lagi memutar lagu-lagu Taylor Swift dari laptop. Ada lagi, ketika saya tak sengaja menyenandungkan lirik lagu si Taylor, teman di meja belakang saya sontak berujar kencang (super, sampai sekantor bisa mendengarnya), "Mending jadi penyanyiaja, ga usah jadi PR." Muka saya merah padam, karena orang sekantor mentertawai saya.



Ah, tak apa. Saya akui saya memang suka. Wajah cantik dengan mata bak kucing, rambut pirang keemasan - curly, dengan perawakan langsing nan tinggi dan merangsang decak kagum. Lebih dari itu, prestasinya di dunia musik lebih memukau lagi. Itu membuat saya terpesona.



Ssst ... saking sukanya saya, kini di meja saya mulai ramai dengan muka si Taylor Swift. Kalau ada majalah remaja yang bercover dara ini, saya akan minta, untuk saya pajang di dinding kubikal. Bahkan ada juga yang dari potongan koran. Malu? Awalnya sih. Kini, saya tak peduli.







Yeah, Taylor Swift memang sudah mengebor hati saya.

Sabtu, 26 Desember 2009

Just Write*



Whuahahaha, setelah euphoria punya blog baru bulan lalu, bulan ini malah saya mandul. Makanya mumpung bulan Desember belum kelar, saya buru-buru nyari ide buat nulis, biar arsip bulanan saya nggak kosong.

Sebenarnya hasrat nulis sih kerap hadir. Tapi entah kenapa selalu tidak terselesaikan. Hanya menjadi 'draft' yang tersimpan di 'dashboard' atau bahkan nyembul di otak sejenak untuk kemudian tak berbekas karena saya tak mendokumentasikannya.

Pagi ini saya terinspirasi dari ... bengong. Hi hi, karena dah mati gaya nonton TV (2 hari libur panjang kemarin saya habiskan untuk menonton beberapa DVD), dan merasa kaya membuang waktu percuma. So, saya memaksa diri untuk membuat situasi yang bisa mendorong menulis.

Nah, berikut beberapa situasi yang selalu manjur menjadi faktor pendorong.
  1. Membaca majalah. Yup, I'm a magazine person. Mulai saya kecil sepertinya, ketika Ibu saya berlangganan majalah Bobo, Taman Melati, Donal Bebek sebagai bacaan anak-anaknya. Sayalah yang paling rajin menyimpannya. Bahkan Lebaran tahun ini ketika mudik, saya masih menemukan kumpulan majalah yang saya simpan. Hadiah-hadiah dari Bobo pun masih utuh. Tentu sekarang bukan majalah seperti itu yang menginspirasi saya. Yang lebih sesuai umur lah, he he. Khusus pagi ini, saya baru saja membaca Men's Health edisi November 2009. Tak ada artikel khusus. Hanya, membaca karya-karya orang membuat saya ingin berkompetisi membuat tulisan.
  2. Menonton film. Terutama film-film yang menampilkan tuturan 'pelaporan' kegiatan sehari-hari (bisa juga tokoh utama sebagai naratornya). Misalnya, "Sex and the City", "Grey's Anatomy" dan "Marley and Me" -yang terakhir saya tonton sih "The Soloist". Atau, yang juga menggunakan narator (meski bukan si karakter utama): seperti "(500) Days of Summer" atau "Watchmen". Film-film jenis ini seolah menyadarkan saya bahwa di sekitar saya banyak hal yang sebenarnya bisa menjadi bahan untuk ditulis.
  3. Membaca kolom. Jika saya tadi mengkhususkan diri sebagai penyuka media majalah, faktor pendorong yang ini menunjukkan kesukaan saya pada penulisnya. Lebih tepat lagi, pada gaya tutur penulisnya. Saya suka tulisan dengan gaya tutur narasi sehari-hari -seperti juga jenis film yang saya suka di atas. Membaca kolom seperti mengikuti kehidupan penulis secara bersambung. Dari tulisan satu ke tulisan berikutnya secara tak langsung menghadirkan karakter penulis pada kehidupan nyatanya. Termasuk pemikirannya terhadap hidup. Bijaknya, kita seperti berkaca pada tulisannya. That's why I love blog walking; ada beberapa blog orang yang rutin saya kunjungi. Pagi ini saya baru membaca kolom Candace Bushnell yang telah dibukukan: "Sex and the City" -Anda pasti tahu. Selain itu saya juga suka "Parodi"-nya Samuel Mulia di Kompas, tulisan-tulisan Mark Simpson, dan juga kolom "Bahasa" di Tempo.
Nah, setelah terdorong, ini tahap terpentingnya: MENULISKANNYA. Ha ha, tahap tersulit, karena kemalasan menjalinkan kata untuk mengungkapkan isi otak cenderung lebih sering menang. Hfff ... setidaknya untuk kasus pagi ini, ketiga faktor itu telah mendorong saya untuk membuat tulisan tentang "tiga faktor" itu.

Intinya jika sudah terkondisikan, tulis saja apapun yang ada di otak Anda.

Happy writing!

Senin, 23 November 2009

Ratatouille*



Saya sedang suka memasak. Memang masih mood-mood-an, karena terakhir saya masak sepertinya lebih dari sebulan yang lalu. Tepatnya ketika bulan puasa. Nah, beberapa hari terakhir ini saya terdorong untuk melakukannya lagi. Sebabnya? Karena abis menonton "Ala Chef"-nya Farah Quinn di TransTV akhir pekan lalu.

Nah, alasan lebih kuat lagi adalah karena hemat di kantong. Sejauh ini, 3 hari saya cuma menghabiskan Rp 10.000 saja, dan makan cukup layak. Setidaknya menurut kacamata saya: kebutuhan sayur dan protein terpenuhi dari bahan makanan yang saya beli dengan nilai uang tadi. Yup, wortel, kacang panjang, kol, tempe, tahu dan bumbu-bumbunya bisa saya dapatkan dengan murah. Untunglah saya bisa tahan untuk tidak makan nasi.

Balik lagi ke tentang memasak. Saya memang bukan ahli masak. Makanya hasil masakan saya masih belum pede untuk saya share pada orang lain. Saya mengklaimnya menggunakan kalimat, "Untuk konsumsi pribadi saja." Meski kadang teman kontrakan juga ikut mencicipi. Tapi dari reaksi mereka ketika makan, saya yakin itu bukan reaksi puas. Salah seorang teman saya kemarin mempunyai istilah: apapun masakan Zaki, rasanya gitu-gitu aja. Bagi saya sendiri tentu tak puas juga mendapati reaksi seperti itu. Saya jadi tertantang untuk bikin masakan dengan rasa yang lebih layak.

Nah, solusi yang paling mudah adalah mengimplementasikan peribahasa "malu bertanya sesat di jalan". Jadi saya banyak bertanya sebelum memasak. Bertanya pada orang yang lebih mahir, agar rasa masakan saya tak memalukan. Syukurlah kemajuan teknologi mempermudah saya untuk mengakses orang-orang yang lebih mahir itu. Kadang lewat sms ke ibu, atau YM-ing teman-teman. Bahkan tadi sore saya mendapat resep lengkap bikin capcay lewat Twitter. Yah, saya jelas masih butuh bantuan dalam memasak. Saya masih sangat butuh "Ratatouille".