Minggu, 19 Desember 2010

A Single Man*



I am single. Yes.

Am I miserable? Noooo!!!!

Menyadari bahwa teman saya bahagia dengan pasangannya itu sudah menjadi kebahagian bagi saya. Yang jelas, menjadikan "mempunyai pasangan" sebagai faktor "bahagia", itu yang menyedihkan.

Me, proud to be single.

Sabtu, 13 Februari 2010

Drillbit Taylor*



Nah kan, benar-benar euphoria. Hampir dua bulan saya tidak mengisi blog ini. Malah ini menjadi postingan pertama saya di tahun 2010.

Talking about euphoria, tulisan ini adalah lanjutan kegilaan saya pada Taylor Swift, he he (sudah pernah saya ungkapkan dalam tulisan Taylor* sebelumnya).



Yup, si gadis manis, the Country Music Princess mewarnai hari-hari saya. Catat: hari-hari dicela oleh teman-teman kantor.

Contoh: seorang teman kantor kini sering meneriaki saya (dari kubikalnya) dengan: "You belong with meeeeeee", kalau saya ketahuan lagi memutar lagu-lagu Taylor Swift dari laptop. Ada lagi, ketika saya tak sengaja menyenandungkan lirik lagu si Taylor, teman di meja belakang saya sontak berujar kencang (super, sampai sekantor bisa mendengarnya), "Mending jadi penyanyiaja, ga usah jadi PR." Muka saya merah padam, karena orang sekantor mentertawai saya.



Ah, tak apa. Saya akui saya memang suka. Wajah cantik dengan mata bak kucing, rambut pirang keemasan - curly, dengan perawakan langsing nan tinggi dan merangsang decak kagum. Lebih dari itu, prestasinya di dunia musik lebih memukau lagi. Itu membuat saya terpesona.



Ssst ... saking sukanya saya, kini di meja saya mulai ramai dengan muka si Taylor Swift. Kalau ada majalah remaja yang bercover dara ini, saya akan minta, untuk saya pajang di dinding kubikal. Bahkan ada juga yang dari potongan koran. Malu? Awalnya sih. Kini, saya tak peduli.







Yeah, Taylor Swift memang sudah mengebor hati saya.

Sabtu, 26 Desember 2009

Just Write*



Whuahahaha, setelah euphoria punya blog baru bulan lalu, bulan ini malah saya mandul. Makanya mumpung bulan Desember belum kelar, saya buru-buru nyari ide buat nulis, biar arsip bulanan saya nggak kosong.

Sebenarnya hasrat nulis sih kerap hadir. Tapi entah kenapa selalu tidak terselesaikan. Hanya menjadi 'draft' yang tersimpan di 'dashboard' atau bahkan nyembul di otak sejenak untuk kemudian tak berbekas karena saya tak mendokumentasikannya.

Pagi ini saya terinspirasi dari ... bengong. Hi hi, karena dah mati gaya nonton TV (2 hari libur panjang kemarin saya habiskan untuk menonton beberapa DVD), dan merasa kaya membuang waktu percuma. So, saya memaksa diri untuk membuat situasi yang bisa mendorong menulis.

Nah, berikut beberapa situasi yang selalu manjur menjadi faktor pendorong.
  1. Membaca majalah. Yup, I'm a magazine person. Mulai saya kecil sepertinya, ketika Ibu saya berlangganan majalah Bobo, Taman Melati, Donal Bebek sebagai bacaan anak-anaknya. Sayalah yang paling rajin menyimpannya. Bahkan Lebaran tahun ini ketika mudik, saya masih menemukan kumpulan majalah yang saya simpan. Hadiah-hadiah dari Bobo pun masih utuh. Tentu sekarang bukan majalah seperti itu yang menginspirasi saya. Yang lebih sesuai umur lah, he he. Khusus pagi ini, saya baru saja membaca Men's Health edisi November 2009. Tak ada artikel khusus. Hanya, membaca karya-karya orang membuat saya ingin berkompetisi membuat tulisan.
  2. Menonton film. Terutama film-film yang menampilkan tuturan 'pelaporan' kegiatan sehari-hari (bisa juga tokoh utama sebagai naratornya). Misalnya, "Sex and the City", "Grey's Anatomy" dan "Marley and Me" -yang terakhir saya tonton sih "The Soloist". Atau, yang juga menggunakan narator (meski bukan si karakter utama): seperti "(500) Days of Summer" atau "Watchmen". Film-film jenis ini seolah menyadarkan saya bahwa di sekitar saya banyak hal yang sebenarnya bisa menjadi bahan untuk ditulis.
  3. Membaca kolom. Jika saya tadi mengkhususkan diri sebagai penyuka media majalah, faktor pendorong yang ini menunjukkan kesukaan saya pada penulisnya. Lebih tepat lagi, pada gaya tutur penulisnya. Saya suka tulisan dengan gaya tutur narasi sehari-hari -seperti juga jenis film yang saya suka di atas. Membaca kolom seperti mengikuti kehidupan penulis secara bersambung. Dari tulisan satu ke tulisan berikutnya secara tak langsung menghadirkan karakter penulis pada kehidupan nyatanya. Termasuk pemikirannya terhadap hidup. Bijaknya, kita seperti berkaca pada tulisannya. That's why I love blog walking; ada beberapa blog orang yang rutin saya kunjungi. Pagi ini saya baru membaca kolom Candace Bushnell yang telah dibukukan: "Sex and the City" -Anda pasti tahu. Selain itu saya juga suka "Parodi"-nya Samuel Mulia di Kompas, tulisan-tulisan Mark Simpson, dan juga kolom "Bahasa" di Tempo.
Nah, setelah terdorong, ini tahap terpentingnya: MENULISKANNYA. Ha ha, tahap tersulit, karena kemalasan menjalinkan kata untuk mengungkapkan isi otak cenderung lebih sering menang. Hfff ... setidaknya untuk kasus pagi ini, ketiga faktor itu telah mendorong saya untuk membuat tulisan tentang "tiga faktor" itu.

Intinya jika sudah terkondisikan, tulis saja apapun yang ada di otak Anda.

Happy writing!

Senin, 23 November 2009

Ratatouille*



Saya sedang suka memasak. Memang masih mood-mood-an, karena terakhir saya masak sepertinya lebih dari sebulan yang lalu. Tepatnya ketika bulan puasa. Nah, beberapa hari terakhir ini saya terdorong untuk melakukannya lagi. Sebabnya? Karena abis menonton "Ala Chef"-nya Farah Quinn di TransTV akhir pekan lalu.

Nah, alasan lebih kuat lagi adalah karena hemat di kantong. Sejauh ini, 3 hari saya cuma menghabiskan Rp 10.000 saja, dan makan cukup layak. Setidaknya menurut kacamata saya: kebutuhan sayur dan protein terpenuhi dari bahan makanan yang saya beli dengan nilai uang tadi. Yup, wortel, kacang panjang, kol, tempe, tahu dan bumbu-bumbunya bisa saya dapatkan dengan murah. Untunglah saya bisa tahan untuk tidak makan nasi.

Balik lagi ke tentang memasak. Saya memang bukan ahli masak. Makanya hasil masakan saya masih belum pede untuk saya share pada orang lain. Saya mengklaimnya menggunakan kalimat, "Untuk konsumsi pribadi saja." Meski kadang teman kontrakan juga ikut mencicipi. Tapi dari reaksi mereka ketika makan, saya yakin itu bukan reaksi puas. Salah seorang teman saya kemarin mempunyai istilah: apapun masakan Zaki, rasanya gitu-gitu aja. Bagi saya sendiri tentu tak puas juga mendapati reaksi seperti itu. Saya jadi tertantang untuk bikin masakan dengan rasa yang lebih layak.

Nah, solusi yang paling mudah adalah mengimplementasikan peribahasa "malu bertanya sesat di jalan". Jadi saya banyak bertanya sebelum memasak. Bertanya pada orang yang lebih mahir, agar rasa masakan saya tak memalukan. Syukurlah kemajuan teknologi mempermudah saya untuk mengakses orang-orang yang lebih mahir itu. Kadang lewat sms ke ibu, atau YM-ing teman-teman. Bahkan tadi sore saya mendapat resep lengkap bikin capcay lewat Twitter. Yah, saya jelas masih butuh bantuan dalam memasak. Saya masih sangat butuh "Ratatouille".

Sabtu, 14 November 2009

Taylor*



Rasanya saya mulai kesulitan nih ketika membuat judul di blog ini. Sudah banyak yang nggak nyambung. Ha ha. Tapi bodo' ah, I'm trying to build a pattern here.

Baiklah. Judulnya "Taylor" karena saya memang bermaksud untuk membuat tulisan bertemakan itu. Tepatnya ... Taylor Swift.



Saya memang sedang tergila-gila dengan Country Music Princess ini. Sekitar 3 tahun yang lalu, adalah pertama kalinya saya menemukan nama Taylor Swift di tangga lagu US Billboard. Dari tampilan rambut curly berantakan, looked older, membuat saya malas untuk mencari tahu lebih tentang dia. Apalagi setelah tahu kalo genre yang diusungnya: country. Entah kenapa kesan awal saya tentang jenis musik ini adalah Tantowi Yahya memakai topi koboi dan menyanyikan "Bengawan Solo" -pengalaman yang sungguh traumatis, hingga saya enggan bersentuhan dengan musik itu-.



Namun, tahun lalu, ketika album kedua Taylor Swift "Fearless" bercokol di puncak. Saya jadi bertanya-tanya. Dan akhirnya fakta bahwa dia masih muda (18 tahun) dan bahwa dia memulai menulis lagu sejak umur 12 tahun (hanya dengan 3 chord gitar yang diajarkan oleh seorang tukang servis yang sedang bertugas ke rumahnya), serta bahwa dia menolak sebuah label besar karena dia harus menyanyikan lagu orang lain, membuat saya kagum.



Saya pun kemudian mencari lagu-lagunya. "Love Story" menjadi lagu dia pertama yang saya favoritkan. Dan saya makin bergairah pada penyanyi cantik ini setelah single "You Belong With Me" meledak. Saya kemudian mencari-cari lagu-lagunya yang lain, seperti "White Horses" (yang rilis perdana di salah satu episode Grey's Anatomy), atau lagu lama dia "Tim McGraw" yang mengantarnya untuk populer.

Minggu ini menjadi pekan pencapaian yang luar biasa buat Swift. Di Country Music Association Awards, ia menyabet gelar "Female Vocalist of the Year", "Album of the Year" for Fearless, "Music Video of the Year" for "Love Story" dan the youngest-ever of the CMA's top trophy: "Entertainer of the Year".

Di tangga lagu Billboard 100, sejarah pun ia torehkan dengan mencokolkan 8 single sekaligus, 5 diantaranya adalah debutan (dari re-released-nya Fearless: Deluxe Edition) menjadikan Swift sebagai wanita pertama yang mempunyai single terbanyak dalam chart, dan wanita pertama yang mempunyai debutan terbanyak dalam satu pekan.

Bravo. Mengingat umurnya, sepertinya saya akan mengidolakan Taylor Swift dalam waktu lama.

PS: Lagi suka "The Other Side of the Door" ... lucu, abege sekali!

Jumat, 13 November 2009

Every Girl Should Be Married*



"Ringgo kawin bulan May?"

Fiuh! Iklan yang sempat tren beberapa waktu lalu itu pasti menyelamatkan banyak orang dari pertanyaan pamungkas, ”Kapan kawin?” Bagi kita, para lajang, usia pertengahan 20-an tentunya menjadi masa kritis untuk didera pertanyaan tadi.

Ok, saya pun berada di fase umur itu. Bahkan kalau merunut background, saya berasal dari kota kecil yang sangat Jawa, di mana di sana dengan usia yang saya sandang ini sudah pantas mendapat karunia dua anak –even kakak saya pun demikian. Wajar jika di mailist SMA saya, topik hangatnya selalu mengenai menikah atau berbalas email ucapan selamat ketika salah satu dari teman yang posting undangan resepsinya. Belum lagi jika ada acara bersama keluarga besar, pertanyaan tadi sering diiringi ajakan om ini tante itu untuk berkenalan dengan anak mereka (yippie!).

Dan, jawaban Ringgo dengan, “Maybe yes, maybe no,” memberi alternatif yang lebih manis ditiru, tinimbang kita ketahuan sebagai pria yang masuk kategori: pertama, belum punya pasangan, atau kedua, memang nggak mau menikah –dengan berbagai alasan. Pun bagi yang sudah punya pasangan –dan sudah pacaran bertahun-tahun, apalagi sudah ngebet menikah, apa yang sebenernya mereka tunggu lagi? This morning, I asked my friends, my male friends “Kenapa sih nggak kawin-kawin juga?” Dan, sangat umum jawabannya, “Lagi ngumpulin biaya kawin,” yang membuat mereka saya masukkan kategori ketiga: pria yang sudah punya pasangan tapi belum punya duit untuk biaya resepsinya –jawaban ini bernilai rasa lebih tinggi daripada dua yang lain.

Memang, bagi kaum pria, sudah fitrahnya jika uang menjadi prioritas. Andrew Kimbrell, penulis “The Masculine Mystique” pernah mengemukakan hasil research-nya, “The Differences between Masculine and Feminine” dan menyebut salah satu karakter pria: strong drive for power and money. Terkait itu, rasanya “ngumpulin biaya kawin” menjadi jawaban yang lebih bisa diterima.

Laki-laki beranggapan pernikahan sebagai sebuah lembaga yang bisa mempertaruhkan power-nya. Karenanya, secara natural mereka akan menggunakan segala cara untuk tetap bisa mempertahankan power, termasuk dengan money. Nah, jika wedding dianggap sebagai gerbang awal pernikahan, maka bagi kaum Adam itu menjadi sarana aktualisasi (baca: pertunjukan) power dan money, yang ditujukan selain pada pasangannya tetapi juga banyak orang. Semakin dimahfumi pula jika laki-laki ingin mempertunjukkannya dengan sempurna dan total, yang bahkan sering kita denger, dengan biaya yang membelalakkan mata.

Guys, coba dengarkan pasangan Anda baik-baik. Is that what they’re really looking for? Yeah, mereka memang mempunyai their wedding fairy tales: white dress, flowers everywhere, big cake, and much more. Namun sungguh mereka justru lebih melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mendalam. Seperti yang diutarakan teman perempuan saya, “Marriage is happiness, security, lots of love and understanding.” It sounds cliché but don’t be sarcastic, having a “happily ever after” is her marriage fairy-tale. Admit that women really want it in their real life.

Back to Kimbrell. He said, perempuan mempunyai karakter kebalikan dari pria: power and money less important. Mereka nggak terobsesi kekuasaan dan uang kok. Nah, jawaban teman perempuan saya tadi pun sangat sesuai dengan karakteristik lain perempuan hasil temuan Kimbrell: that woman needs more intimacy –yang mana sebaliknya pria justru: needs less intimacy.

So, why bother with people’s opinion. Marriage is a phase where you will spend the rest of your life with someone who loves you, and I hope, who you really really love. Toh yang sebenarnya pasangan inginkan hanyalah Anda, cinta Anda. Well, jika kelak di suatu acara Anda keceplosan menjawab pertanyaan “Kapan kawin?” dengan, “May.” Lantang teruskan jawaban Anda dengan,”May is perfect!” dan saya yakin pasangan Anda akan memeluk Anda lebih erat.

Selasa, 10 November 2009

The Terminal*



Di YM hari ini:
Z: Eh sibuk nggak?
G: Edit-edit aja. Kenapa?

Z: Ketemuan yuk. Kangen.
G: Yuuk! Di mana jam berapa?

Z: Blok M yuk lama nggak ke sana. Jam 7-an.

Ya, saya hari ini bernostalgia dengan teman saya, Grace. Bukan dia objek nostalgianya. Tetapi lokasinya lah yang menjadi objek nostalgia kami. Dulu di awal-awal kepindahan saya ke Jakarta, mal ini begitu akrab. Bukan karena keunikan, apalagi "wah" atau apanya, tetapi karena Blok M (terutama terminalnya) adalah area yang tiap hari saya kunjungi. Maklum, sampai sekarang saya punya punya habit buruk, hanya mengenal rute seputaran kontrakan sampai kantor saya bekerja saja. Makanya kala itu yang saya tahu hanya Petukangan-Blok M-sepanjang Sudirman-Menteng. Mal Blok M (yang tak jauh dengan terminal) acap saya kunjungi karena menjadi tempat umum yang paling mudah saya jangkau. Terutama karena tak menyulitkan saya pulang ke kontrakan. Jadi kalau saya pulang kantor menyempatkan main ke sana, saya nggak kesulitan untuk pulang.

Nostalgia itu saya mulai ketika jam beranjak 36 menit dari angka 4 sore. Saya bergegas cabut dari kantor, melaju dengan transjakarta. Jam 6 sore, tepat saya mencapai terminal Blok M. Kewajiban Maghrib menggiring saya ke mushola di samping terminal. Mushola kecil, yang ... saya salut akan bersihnya. Fasilitas wudhunya yang cukup banyak (untuk mushola sekecil itu). Usai sholat, ketika memasang sepatu di tangga mushola, saya melihat seorang pria memakai peci putih menundukkan kepala untuk berdoa. Di barisan akhir, terbelakangi oleh shaf-shaf orang yang sedang sholat. Komat-komat mulutnya. Dan semakin gencar mulutnya bergerak ketika tangannya ia tengadahkan. Di situ saya mengenali wajahnya. Wajah yang pertama kali saya kenal minggu lalu. Di terminal Blok M.

Sekitar seminggu yang lalu saya menyengajakan diri untuk pulang ke rumah dari terminal Blok M. Sedang malas untuk terlalu sering berganti angkutan, seperti yang sehari-hari saya lakukan. Sambil menunggu kopaja 609 -moda jurusan pulang, saya duduk-duduk di pot-pot besar yang tersusun di lintasan terminal. Banyak pedagang asongan dan penjaja makanan, beberapa mondar-mandir. Mata saya tertumbuk pada seorang pedagang tahu gejrot. Duduk di atas sebuah bangku kayu kecil, pandangannya menunduk pada sesuatu yang ia pegang di depan dadanya. Al-Qur'an.

Saya takjub. Di jaman sekarang, dan di lokasi (terminal) yang biasa terkenal dengan kehidupan kerasnya, masih ada orang yang begitu menekuni sisi spriritualnya. Saya pun jadi ingin tahu lebih banyak tentang orang ini. Mendekati pikulannya, saya berjongkok untuk memesan seporsi tahu gejrot. Dia pun menawarkan bangku kecil yang ia duduki. Obrolan saya alirkan.

Si Mas penjual tahu gejrot itu ternyata asli Cirebon, sudah 3 tahun di Jakarta, namun baru 6 bulan berjualan mata dagangan itu. Dia tinggal di Kebayoran Lama, dan terminal Blok M adalah lokasi mangkalnya setelah seharian keliling. Dan dia baru akan beranjak pulang sekitar pukul 10 malam. Berjalan kaki, memanggul pikulan tahunya. Bolak-balik. Setiap hari. Rute yang luar biasa jauh. Sebelumnya ia tinggal di Kalibata, berjualan gorengan, pecel lele dan mengerjakan hal-hal lain.

Jawaban-jawaban yang singkat itu tak bernada sendu. Ucapnya, "Yang bisa saya lakukan ya usaha terus Mas. Apa saja, yang penting halal. Alhamdulillah, ini kan rezeki saya."

Kembali saya takjub. Saya syukuri pertemuan itu. Yang seolah menjadi pengingat saya untuk terus mensyukuri yang telah saya dapatkan. Dan ketika saya melihat lagi si penjual tahu gejrot itu di mushola, saya seperti menemukan optimisme yang terlihat dari rautnya saat memanjatkan doa. Saya yakin dia kelak akan menerima hal besar dalam hidupnya. Semoga.

Andai saya lebih punya kuasa untuk bisa membantunya.